×

Akal-Akalan, Seni Media Baru Seniman Asia Tenggara

BANDUNG–Belasan karya seni rupa kontemporer hasil dari proses akal-akalan dari seniman regional Asia Tenggara: Indonesia, Singapura, Malaysia, Filipina, Vietnam, Thailand, berupa instalasi seni, video seni, suara seni, kinetik seni yang dipajang di ArtSociates Gallery, Bandung,  akan menjadi destinasi wisata seni rupa di musim liburan sekolah kali ini, sekaligus long weekend di Bandung.

Karya seni rupa yang dipajang di ArtSociates diberi judul ‘Akal-Akalan’ ini berlangsung pada tanggal 12 June – 24 July 2026, dikurasi oleh Gunalan Nadarajan dan Roopesh Sitharan. Para seniman yang berpameran adalah Abshar Plastiza (Indonesia), Corrine de San Jose (Filipina), Fendi Mazalan (Malaysia), Jompet Kuswidananto (Indonesia), Margaret Tan (Singapura), Mira Rizki Kurnia (Indonesia), Giang Nguyen Hoang (Vietnam), Haris Abadi (Malaysia), Hoo Fan Chon (Malaysia), Tisya Wong (Singapura), Witaya Junma (Thailand) dan Yang Jie (Singapura).

Yang menarik adalah karya-karya seniman tersebut di atas banyak menampilkan persoalan keseharian yang direkonstruksi menjadi proyek seni yang personal. Tisya Wong menggunakan serbuk arang dan robot vacuum untuk membuat pengulangan bentuk dan pola.

Pendekatan teknologi, sains dan material kultur sebagai medium bahasa menjadi penting sebagai proses kreatif dalam pilihan praktik seniman membangun bahasa rupa yang identik dengan skena seni rupa kawasan dalam upaya merayakan keberagaman seni dan budayanya.

Margaret Tan berkolaborasi dengan Frank Liiaw menyajikan karya interaktif dengan memanfaatkan teknologi AI. Pengunjung pameran dapat scan barcode untuk upload foto lalu scan barcode kembali untuk me-generate data visual dari foto diri dalam proses identifikasi kesukuan yang bersangkutan menggunakan coding yang lazim digunakan dalam aplikasi artificial intelligence.

Yang Jie memanfaatkan cangkir-cangkir, motor sederhana, perangkat elektronik serta potongan mainan untuk membuat robot anomali dengan cangkir sebagai tubuhnya. Yang Jie menurutkan bawah, cangkir-cangkir yang sebelumnya terdiam di ruang koleksi sebagai benda fungsional, diberi kesempatan kedua dengan sedikit konfigurasi menggunakan bantuan teknologi penggerak dengan tanpa menanggalkan sejarah cangkir itu sendiri.

Sementara karya instalasi yang cukup serius dihadirkan oleh Jompet Kuswidananto di ruang terpisah dengan memanfaatkan material yang lebih masif, menggunakan motor penggerak dan perangkat elektronik untuk memproduksi bunyi. Persoalan identitas, ingatan personal dan politik kebudayaan masih konsisten ditelusur secara artistik oleh Jompet. Karyanya mengadopsi bentuk theater di mana banyak material kultur yang saling berdialog satu sama lain jadi sebuah lanskap peristiwa kemanusiaan.

Hampir semua karya para seniman membawa pengalaman personal seniman masing-masing yang dikode-ulang menggunakan perangkat elektronik sebagai medium artistik hingga membawa persoalan budaya dan manusia dalam konteks konsumsi budaya visual. Peran sains dan teknologi menjadi pokok soal bagaimana seni rupa di’akali’ hingga membangun makna peradaban manusia saat ini. Tentu saja beberapa karya masih bersifat naratif dalam sajiannya, sekaligus menunjukkan ciri khas karya seni rupa kawasan Asia Tenggara.

Gunalan Nadarajan dan Roopezh Sitharan meramu pameran seniman-seniman ini untuk akli ketiga setelah berpameran di Malaysia dan Singapura, Istilah ‘akal–akalan’ juga dikaitkan dengan solusi material dan praktis yang kreatif untuk ‘mengatasi’ dan memanipulasi situasi dan tantangan sehari-hari yang rumit. Pameran ini menyajikan Akal-Akalan sebagai kecerdasan budaya dalam memprogram ulang untuk menjalankan program sendiri; mengakali dan secara taktis merancang ulang teknologi, hal-hal, dan situasi untuk melayani tujuan senimannya. Ketersediaan teknologi hari ini penting bagi seniman untuk membangun relasi budaya yang secara personal disajikan oleh seniman, selain makna, konteks dan isi karya seni rupa hari ini.***

Post Comment