Emas hingga KPR Jadi Pendongkrak Pembiayaan Konsumer BCA Syariah, Tumbuh 34,69 Persen
BANDUNG–Pembiayaan konsumer PT BCA Syariah mencatatkan pertumbuhan 34,69 persen secara tahunan hingga Agustus 2026. Kinerja tersebut, mencerminkan meningkatnya peran produk pembiayaan berbasis syariah untuk memenuhi kebutuhan masyarakat. Yakni, mulai dari investasi emas hingga kepemilikan rumah dan kendaraan.
Berdasarkan data perseroan, total pembiayaan konsumer BCA Syariah meningkat dari Rp 1.832 miliar pada Agustus 2025 menjadi Rp2.468 miliar pada Agustus 2026.
Menurut Kepala Satuan Kerja Bisnis Retail dan Konsumer BCA Syariah, Bukit Mas Siahaan, pembiayaan konsumer menjadi salah satu area yang terus dikembangkan perseroan. Produk yang ditawarkan, mencakup pembiayaan multijasa, termasuk untuk kebutuhan umroh dan program bayi tabung.
Selain pembiayaan multijasa, pembiayaan emas juga mencatatkan pertumbuhan signifikan. Nilainya meningkat 81,76 persen, dari Rp329 miliar menjadi Rp598 miliar per Agustus 2026.
Pembiayaan kepemilikan rumah (KPR) turut tumbuh 24,17 persen, dari Rp1.437 miliar menjadi Rp1.784 miliar. Sementara itu, pembiayaan kendaraan bermotor (KKB) naik 32,59 persen, dari Rp59 miliar menjadi Rp78 miliar.
Bukit mengatakan, masyarakat semakin selektif dalam menentukan instrumen investasi dan pembiayaan untuk kebutuhan jangka panjang, terutama di tengah dinamika daya beli. “Keuangan syariah memberikan kepastian tanpa unsur spekulasi, yang menjadi nilai tambah bagi nasabah,” ujar Bukit dalam acara Kick Off BCA Syariah Journalist Competition 2026 Sahabat Berkahmu bertema “Membaca Arah dan Tren Bisnis Konsumer Syariah, in this Economy” di Jakarta, belum lama ini.
Salah satu produk yang mendapat perhatian perseroan, adalah pembiayaan emas. Menurut Direktur BCA Syariah Pranata, harga emas telah meningkat lebih dari 200 persen dalam kurun waktu 10 tahun terakhir. Kendati demikian, pergerakan harga emas tetap dipengaruhi dinamika ekonomi global.
“Kalau kita lihat secara prospek ke depan, emas itu masih tetap menarik. Dan kalau kita lihat pun, walaupun animonya tidak setinggi di awal tahun, tapi kita lihat semakin banyak nasabah kita pun yang sudah paham, bahkan memandang emas itu adalah investasi jangka panjang,” kata Pranata.
BCA Syariah juga memperluas akses pembiayaan emas melalui layanan digital. Nasabah kini dapat mengajukan pembiayaan Emas iB melalui aplikasi mobile banking Bsya dengan minimum pembiayaan 5 gram, lebih rendah dibandingkan ketentuan sebelumnya sebesar 10 gram.
Perseroan juga, memperluas pilihan produk emas yang dapat dibiayai, dari sebelumnya hanya Antam menjadi Antam, Galeri 24, dan Hartadinata.
Pranata menilai emas dapat menjadi salah satu alternatif untuk melengkapi instrumen investasi masyarakat. Namun, keputusan investasi tetap perlu mempertimbangkan tujuan keuangan, jangka waktu, dan risiko yang dihadapi. “Nah, dengan demikian kita masih melihat potensi itu emas sebagai investasi jangka panjang, sebagai alternatif juga salah satunya,” katanya.
Pranata pun, mengingatkan masyarakat agar tidak menempatkan seluruh dana investasi pada satu instrumen. Diversifikasi diperlukan agar pengelolaan keuangan lebih terukur dan sesuai dengan kebutuhan masing-masing.
“Kalau untuk investasi kan kita taruh di satu basket atau satu keranjang semua, itu kan kurang bagus. Jadi memang kita juga selalu memberikan pemahaman kepada nasabah, emas itu adalah satu basket yang cukup bagus untuk jangka panjang. Nah, sekarang kita lihat potensi ke depan, kita masih melihat, tetap bagus untuk prospeknya,” kata Pranata.
Di sisi industri, peluang pertumbuhan keuangan syariah masih terbuka. Ekonom Syariah sekaligus Anggota Komite Pengembangan Keuangan Syariah OJK, Dian Masyita, mencatat pangsa keuangan syariah nasional mencapai 11,24 persen per Juni 2026, sementara total asetnya tumbuh 9,82 persen secara tahunan menjadi Rp3.264 triliun.
Dian menilai pengembangan produk yang mudah diakses, relevan dengan kebutuhan, kompetitif, dan sesuai prinsip syariah menjadi faktor penting untuk memperluas jangkauan industri.
Pertumbuhan pembiayaan emas, KPR, KKB, dan multijasa menunjukkan beragamnya kebutuhan yang dapat dilayani perbankan syariah. Ke depan, pengembangan produk dan peningkatan literasi keuangan menjadi bagian penting dalam menjaga pertumbuhan tersebut.



Post Comment