Hadapi Konflik Geopolitik, Industri Tekstil Indonesia dan India Sepakati Kerja Sama
BANDUNG–Dinamika konflik geopolitik yang disertai berdampak pada kenaikan harga energi dunia, dikhawatirkan bisa mempengaruhi rantai pasok tekstil garmen dunia. Karena, gejolak perang Iran dengan US dan Israel telah mengakibatkan melambungnya harga bahan bakar dunia. Termasuk, meningkatkan harga bahan baku tesktil dan garmen. Apalagi dengan kegagalan perundingan Iran dan US di Pakistan, mendorong perlunya antisipasi jangka pendek menengah.
Melihat kondisi ini, Indonesia dan India sepakat untuk bekerja sama untuk mewujudkan pertumbuhan utama industri tekstil dan garmen dunia. Kesepakatan tersebut dibuat, saat pertemuan antara API (Asosiasi Pertekstilan Indonesia) dengan India ITME Society di Bandung, Senin (13/4/2026). Tujuan kerja sama, untuk mengatasi kendala peningkatan produktifitas tekstil garmen. Acara dihadiri sekitar 50 pelaku usaha pertekstilan India dan Indonesia.
Menurut Ketua India ITME Society, Mr Ketan Sanghvi, pihaknya siap bekerja sama dengan API (Asosiasi Pertekstilan Indonesia) untuk meningkatkan kinerja industri TPT (Tekstil dan Produk Tekstil) Indonesia ke dunia. “Kehadiran kami bersama perusahaan-perusahaan produsen mesin tekstil India ke Indonesia ini, untuk berkolaborasi dengan Asosiasi Pertekstilan Indonesia. Kami siap bekerjasama dalam inovasi dan modernisasi permesinan industri pertekstilan di Indonesia. Indonesia dan India adalah mitra yang sangat penting untuk menjalin kerjasama perdagangan antar negara,” ujar Mr Ketan.
Mr Ketan Sanghvi mengatakan, kolaborasi antara India dan Indonesia menjadi kunci menghadapi tantangan global saat ini. “Kita bersama akan mampu mengatasi disrupsi rantai pasok, tekanan biaya energi, dan kebutuhan akan mesin mesin hemat energi dan bertehnologi tinggi. Kemitraan strategis menjadi fondasi penting bagi pertumbuhan industri tekstil masa depan,” katanya.
Saat ditanya soal masa depan industri tekstil, khususnya di India dan Indonesia, Ketan Sanghvi mengakui, memang ada beberapa tantangan jangka pendek. Seperti situasi geopolitik yang memengaruhi harga, rantai pasok, dan bisnis di seluruh dunia. “Namun, setelah kondisi ini membaik, saya yakin terdapat potensi besar untuk peningkatan bisnis. Permintaan akan kembali dan industri akan kembali membaik,” katanya.
Terkait konflik di Timur Tengah, Mr Ketan Sanghvi mengatakan memang ada dampaknya. Salah satunya, ada beberapa kesulitan terkait masalah logistik. Karena, harga minyak mentah meningkat sehingga harga benang sintetis juga naik, jadi tentu berdampak pada industri.
“Ketika harga naik, industri pasti menghadapi tantangan. Namun kondisi ini tidak akan berlangsung selamanya. Ketika situasi membaik, harga akan kembali stabil,” katanya.
Selain itu, kata dia, industri tekstil juga sedang berupaya keras untuk mengurangi ketergantungan pada rantai pasok, meningkatkan efisiensi, mendorong inovasi, serta menjadi lebih berkelanjutan. “Ketika industri kembali pulih, saya yakin akan ada masa yang baik bagi industri ini. Semoga tidak terlalu lama. Kita berharap dan juga berdoa,” katanya.
Sementara itu, Ketua Umum API Jemmy Kartiwa menyambut baik kehadiran delegasi permesinan tekstil India. Jemmy menilai, India saat ini memang cukup maju dalam industri permesinan tekstil dan garmen sehingga produktifitas India cukup tinggi. “Kita menyambut baik kehadiran para pengusaha mesin tekstil India dan semoga banyak anggota API bisa memanfaatkan kunjungan kerjasama ini untuk saling belajar dan bekerja sama,” kata Jemmy.
India ITME Society bersama API menyelenggarakan Interactive Business Session pada 13 April 2026 di Hotel Sheraton Bandung. Forum ini diharapkan menjadi wadah strategis untuk mempertemukan pelaku industri India dengan mitra lokal dalam rangka memperluas investasi, perdagangan, serta kolaborasi teknologi.
Jemmy Kartiwa mengatakan, seluruh industri tekstil dan produk tekstil Indonesia akan melakukan berbagai jenis corporate action demi efisiensi energi dan peningkatan produktifitas. “Kami juga apresiasi Pemerintah yang telah mendukung iklim investasi padat karya yang semakin baik,” katanya.
Pada pertemuan di Bandung tersebut, kedua belah pihak membahas mengenai teknologi mesin ramah energi antara India dan Indonesia. Selain itu, dibahas juga bagaimana transformasi teknologi dan otomatisasi bisa diaplikasikan tanpa mengorbankan tenaga kerja padat karya yang saat ini masih sangat dibutuhkan baik di India maupun Indonesia. “Produktifitas penting, tetapi lapangan kerja padat karya juga urgent,” katanya.
Indonesia dilirik sebagai destinasi strategis, terutama seiring berkembangnya tren sustainable fashion dan digitalisasi rantai pasok global. Serta, didukung jumlah penduduk yang besar, pertumbuhan kelas menengah yang signifikan, serta komitmen pemerintah dalam mendorong peningkatan ekspor sektor tekstil nasional yang saat ini mampu menunjukkan resiliensi.



Post Comment