×

Pertama di Indonesia, GREY Hair and Nail Artistry Hadirkan Layanan Kecantikan dan Ruang Galeri

BANDUNG–Menyambut ulang tahun ke-3 Grey Art Gallery, Grey kembali menghadirkan inovasi dalam dunia seni dan ekonomi kreatif melalui pembukaan GREY Hair and Nail Artistry, bertempat di Jl. Cilaki No. 28, Cihapit, Kec. Bandung Wetan, Kota Bandung.

Selain itu, masih diperayaan ulang tahun ke-3, GREY memperluas perannya sebagai penggerak ekosistem seni rupa kontemporer melalui pengembangan ruang, program, dan platform kuratorial yang saling terhubung. Dua inisiatif penting yang menandai fase ini adalah kehadiran GREY CUBE sebagai ruang baru dalam ekosistem galeri. Serta penyelenggaraan GREY Award 2026, perhelatan penghargaan seni rupa yang memasuki edisi ke-2.

Menurut Grace Christianti, Owner/Founder GREY Hair and Nail Artistry, salonnya tidak hanya menawarkan layanan kecantikan, tetapi juga menyajikan karya-karya seni yang dipamerkan pada dinding salon. “Konsep ini merupakan yang pertama di Indonesia, menggabungkan ruang galeri dan salon kecantikan dalam satu pengalaman kreatif yang unik,” ujar Grace.

GREY Hair and Nail Artistry merupakan bagian dari ekosistem Grey yang lebih luas, di mana setiap ruang dan program saling melengkapi untuk mendukung pengembangan seni rupa dan ekonomi kreatif di Bandung.

Grey sendiri digagas oleh Grace Christianti, Elia Yoesman, dan Jennifer Sugianto, dengan visi menghadirkan seni sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari. Serta, memperluas cara publik berinteraksi dengan praktik seni rupa kontemporer.

Dengan menghadirkan karya seni di ruang salon, Grey menekankan bahwa apresiasi seni telah menjadi bagian dari gaya hidup, dan seni rupa kini cukup cair untuk masuk ke dalam ruang publik sehari-hari.

Di tahun pertamanya, GREY Hair and Nail Artistry menampilkan karya-karya dengan visualisasi monokrom hitam–putih. Kehadiran karya di ruang keseharian memposisikan seni terasa dekat, akrab, dan menjadi bagian dari pengalaman hidup, bukan sekadar pajangan. Kombinasi warna hitam dan putih memberi ruang bagi mata dan pikiran untuk berjeda serta bernapas sejenak.

“Kami ingin menunjukkan bahwa seni dapat menjadi bagian dari cara kita menjalani hari. Di GREY Hair and Nail Artistry, setiap karya hadir di tengah aktivitas sehari- hari. Sehingga, pengunjung bisa merasakan seni secara langsung — sebagai teman, inspirasi, atau momen refleksi dalam rutinitas mereka,” paparnya.

Selain sebagai medium apresiasi, karya-karya yang ditampilkan juga tersedia untuk dijual, sebagai bagian dari distribusi karya dan dukungan terhadap praktik seni seniman. Dengan cara ini, salon tidak hanya menghadirkan pengalaman visual dan emosional, tetapi juga berperan dalam memperluas akses pasar bagi karya seni kontemporer.

GREY Hair and Nail Artistry menegaskan posisi Grey Art Gallery sebagai inovator dalam ekosistem seni rupa dan ekonomi kreatif. Yakni, menghadirkan format baru yang memperluas batasan antara seni, budaya, dan aktivitas keseharian. Konsep ini menjadi platform bagi seniman untuk menampilkan karya sekaligus laboratorium eksperimen bagi integrasi seni ke dalam gaya hidup publik, membuka kemungkinan baru bagi pertumbuhan ekosistem ekonomi kreatif di Indonesia.

Sebagai sebuah ekosistem, GREY tidak dibangun untuk menghadirkan satu representasi tunggal seni rupa kontemporer. Melainkan, sebagai struktur berlapis yang memungkinkan beragam praktik, dan posisi artistik.

Setiap ruang dan program dirancang dengan peran, skala, dan orientasi yang berbeda, namun tetap terhubung dalam satu visi pengembangan yang berkelanjutan.

Sementara itu, GREY CUBE diperkenalkan sebagai simpul baru dalam ekosistem Grey Art Gallery, berlokasi di Jl. Dago No.169 Lantai 3, Lb. Siliwangi, Kecamatan Coblong, Kota Bandung, Jawa Barat 40132. Ruang ini tidak dimaksudkan untuk berdiri sendiri, melainkan memperkuat lapisan ekosistem yang telah ada melalui fokus kuratorial yang lebih terarah.

Pemilihan karya di GREY CUBE didasarkan pada praktik artistik yang telah berkembang serta relevansinya dalam lanskap seni rupa yang lebih luas. Pendekatan ini memungkinkan karya hadir dengan posisi artistik yang tegas, sekaligus mendukung sirkulasi, distribusi, dan apresiasi karya tanpa memutus kesinambungan dengan ruang-ruang Grey lainnya.

Pada edisi pembukaannya, GREY CUBE menampilkan karya dari Aryo Saloko, Eldwin Pradipta, Heri Dono, Ikie Morphacio, Joko Avianto, Mujahidin Nurrahman, RE Hartanto, dan Toni Antonius. Para seniman ini dipertemukan dalam satu ruang tanpa upaya penyamaan arah atau gaya, sehingga setiap karya dapat hadir dengan karakter dan kekuatannya masing-masing.

Grey Award 2026: Monochrome as Manifesto

Sejalan dengan penguatan ruang, Grey Art Gallery juga melanjutkan komitmennya melalui Grey Award 2026, pameran dan penghargaan seni rupa yang menempatkan eksplorasi, eksperimentasi, dan perumusan sikap artistik sebagai nilai utama.

Tahun ini menandai penyelenggaraan Grey Award ke-2, sebagai bagian dari upaya berkelanjutan dalam mendorong regenerasi dan penguatan ekosistem seni rupa kontemporer Indonesia.

Mengusung tema “Monochrome as Manifesto”, Grey Award 2026 memposisikan monokrom bukan sekadar pendekatan visual, melainkan posisi konseptual. Kerangka karya dibatasi pada monokromatik hitam–putih—spektrum hitam, putih, dan gradasi abu-abu—sebagai pilihan artistik dan sikap kuratorial. Pembatasan ini, tidak dimaksudkan sebagai  pengekangan, melainkan sebagai medan  yang menuntut ketajaman berpikir, ketegasan artikulasi visual, serta kepekaan terhadap struktur visual, cahaya, bayangan, tekstur, dan materialitas karya.

Antusiasme terhadap Grey Award 2026 tercermin dari total 931 karya yang dikirimkan oleh 710 seniman dari berbagai wilayah di Indonesia. Seluruh karya melalui proses seleksi oleh dewan juri Wiyu Wahono, Heri Pemad, dan Angga Aditya. Dari tahap awal ini, terpilih 65 karya dari 60 seniman untuk dipresentasikan dalam pameran Grey Award 2026.

Post Comment