Home > Umum

Workshop Pendidikan di Gagasceria Hadirkan Pakar Coding dan Matematika dari Jepang

Workshop ini bertujuan untuk meningkatkan kompetensi guru dalam mendidik anak. Khususnya dalam hal kemajuan teknologi
Sensei Hidemi Tanaka menyampaikan materi saat kegiatan The 4th Practice Asian Exchange 2025 bertajuk STEM Workshop for Secondary Teachers, di RSG Gagasceria, Kota Bandung, Kota Bandung, Sabtu (30/8/2025). Foto: Edi Yusuf
Sensei Hidemi Tanaka menyampaikan materi saat kegiatan The 4th Practice Asian Exchange 2025 bertajuk STEM Workshop for Secondary Teachers, di RSG Gagasceria, Kota Bandung, Kota Bandung, Sabtu (30/8/2025). Foto: Edi Yusuf

BANDUNG--Sedikitnya 50 guru dari sejumlah SMP di Kota Bandung, serta pengawas dari Dinas Pendidikan Kota Bandung mengikuti kegiatan ‘The 4th Practice Asian Exchange 2025’ bertajuk STEM Workshop for Secondary Teachers bersama sejumlah tenaga pengajar dari Jepang, di RSG SMP Gagasceria, Kota Bandung, Sabtu (30/8/2025).

Kegiatan yang digelar SMP Gagasceria, berkolaborasi bersama Asosiasi Lesson Study Indonesia (ALSI), Center for Excellence of Lesson and Learning Studies (CELLS) Universitas Pendidikan Indonesia dan University of Tsukuba ini menghadirkan Prof Masami Isoda yang merupakan pakar lesson study, inovasi pembelajaran matematika dan pengembangan kurikulum STEM (Sains, Teknologi, Engineering, dan Matematika), bersama sejumlah sensei atau pengajar lainnya.

Direktur Sekolah Gagasceria Fisianty Harahap menuturkan, workshop ini bertujuan untuk meningkatkan kompetensi guru dalam mendidik anak. Khususnya dalam hal kemajuan teknologi, seperi pemanfaatan artificial intelligence (AI).

"Pertama workshop coding dan robotik, kedua bagaimana matematika dan penggunaan ICT dalam pembelajaran matematika seperti yang telah dilakukan di Jepang," kata Fisianty.

Direktur Sekolah Gagasceria, Fisianty Harahap. Foto: Edi Yusuf
Direktur Sekolah Gagasceria, Fisianty Harahap. Foto: Edi Yusuf

Kehadiran para ahli pendidikan dari Jepang ini, salah satunya karena mereka sudah lebih dulu mendalami STEM, sehingga lebih piawai dalam mengimplementasikan pengajaran kepada anak dengan skema berbeda.

"Hal yang paling menonjol dari mereka adalah, bagaimana pengetahuan itu dibangun dari anak-anak, walaupun di Gagasceria kita sudah mencoba, tapi kita perlu melihat orang lain mengerjakannya, itu yang kita coba pelajari dan tularkan ke guru-guru," ujarnya.

Melalui kegiatan seperti ini diharapkan mampu meningkatkan wawasan para guru, dalam mengembangkan pola mengajar guna kemajuan dunia pendidikan.

"Kita saling sharing. Nah kita ingin bangun culture itu. Ayo kita maju sama-sama," pungkasnya.

Sementara, Prof Masami Isoda menyoroti makna mendasar dari open lesson sebagai jembatan antara praktik nyata guru di kelas dengan kebijakan pendidikan. Masami menilai reformasi pendidikan di banyak negara kerap hanya menyentuh ranah kurikulum. Padahal pembaharuan sejati seharusnya lahir dari pengalaman langsung di ruang kelas.

“Ketika kurikulum itu diganti, maka sebenarnya sumber aslinya adalah dari buka kelas. Ketika kelasnya dibuka maka kita bisa memberikan rekomendasi-rekomendasi dan inovasi untuk merubah kurikulum. Jadi ada pengetahuan aktual guru yang diperoleh dari kelas. Bukan semata-mata pengetahuan teori. Ini yang kami bawa,” kata Isoda.

Kegiatan ini tak hanya berfokus pada sharing pembelajaran, tetapi juga membangun jejaring antarpendidik di Asia melalui diskusi reflektif, sehingga kegiatan ini bisa melahirkan rekomendasi tindak lanjut bagi peningkatan mutu pembelajaran di sekolah.***

× Image