Meze Steakhouse, Hadirkan Steak Premium Berkonsep Wood Fire Dining di Kota Bandung
BANDUNG–Syurganya kuliner, memang ada di Kota Bandung. Karena, seperti tak pernah habis selalu ada saja restoran baru yang bermunculan di kota kembang ini. Salah satu yang teranyar, Bandung memiliki destinasi steak premium dengan pendekatan berbeda melalui kehadiran Meze Steakhouse yang berada di Jalan Naripan No 36.
Mengusung konsep wood-fire dining, restoran ini menawarkan pengalaman bersantap steak dengan sentuhan eksklusif, namun tetap santai dan nyaman bagi berbagai kalangan. Menurut Head Chef Meze Steakhouse, Ivan Nugraha, konsep utama restoran ini adalah menghadirkan suasana kasual dengan pengalaman makan yang bisa dinikmati bersama.
“Salah satu konsep kita itu casual dining, tapi meal-nya sharing. Jadi orang bisa datang santai, makan bareng, tanpa harus terasa terlalu formal,” ujar Chef Ivan kepada wartawan, belum lama ini.
Meski mengusung suasana santai, tampilan meja makan dibuat cukup elaborate menyerupai fine dining. Hal ini sengaja dilakukan untuk memberikan kesan eksklusif tanpa membuat tamu merasa kaku. “Orang sering mengira ini fine dining, padahal bukan. Kita cuma ingin setup-nya menarik, terasa spesial, tapi tetap santai,” kata Chef Ivan.
Menurut Chef Ivan, hal lain pun membedakan Meze dari steakhouse lain adalah teknik pemanggangan daging menggunakan wood-fire grill. Steak dipanggang di atas kombinasi coffee wood dan apple wood charcoal yang menghasilkan aroma asap bersih dan alami.
Melalui teknik ini, maka mampu mempertahankan karakter asli daging tanpa perlu tambahan rasa buatan. Proses pemanggangan juga menciptakan caramelization alami di permukaan steak, sehingga sari daging terkunci dan menghasilkan tekstur juicy serta rasa yang lebih kompleks.
Pendekatan wood-fire grill bahkan diterapkan hingga menu dessert, sebagai bagian dari konsistensi konsep dapur Meze yang menekankan karakter api, rasa, dan presisi teknik memasak.
Chef Ivan mengatakan, Meze Steakhouse menggunakan daging impor Australia yang dipilih secara khusus, termasuk Australian Wagyu dengan marbling score MB 4–5 yang dinilai ideal untuk teknik wood-fire grill.
Ivan menjelaskan, sapi penghasil daging konsumsi memiliki perawatan berbeda dibanding sapi dairy, mulai dari jenis pakan, lingkungan peternakan, hingga proses penanganannya.
“Di Australia dan New Zealand itu ada farm khusus dairy dan farm khusus meat, semua penanganannya berbeda. Kita pilih yang memang khusus produksi daging, jadi kualitasnya terjaga, hygiene dan health safety-nya juga jelas,” katanya.
Beberapa menu signature yang ditawarkan antara lain Porterhouse Wagyu, Rump Wagyu, Picanha Wagyu, hingga Rib Eye Angus. Untuk porsi tertentu, steak bahkan bisa dinikmati bersama karena ukuran yang cukup besar, misalnya 300 gram untuk dua orang, meski ada pula tamu yang mampu menghabiskannya sendiri.
Berbeda dengan steakhouse yang menyediakan banyak pilihan saus, Meze justru memilih pendekatan minimalis dengan dua saus utama yang telah melalui proses uji rasa panjang.
Salah satunya chimichurri, saus segar berbahan coriander, cabai, lemon, vinegar, dan bawang putih yang memberikan rasa asam segar sekaligus herbal. Saus lainnya adalah au poivre, saus khas Prancis berbasis lada dengan tekstur creamy. “Kita memang hanya keluarkan dua saus itu karena sudah melalui trial panjang dan paling cocok dengan karakter smoky steak kita,” kata Chef Ivan.
Chef Ivan menilai, terlalu banyak saus justru bisa mengganggu karakter alami daging yang sudah diolah dengan teknik wood-fire.
Selain kualitas makanan, Meze Steakhouse juga menawarkan suasana semi-private casual dining. Interior dibuat hangat, tenang, dan intimate sehingga cocok untuk berbagai momen kebersamaan, mulai dari makan keluarga hingga perayaan spesial. Dipimpin Chef Ivan Nugraha yang memiliki pengalaman lebih dari 32 tahun di industri kuliner, Meze mengedepankan pendekatan rasa yang jujur, teknik presisi, serta hospitality yang hangat.



Post Comment