×

Batik Tamarind Diperkenalkan di Canberra oleh Trisakti dan Maranatha

CANBERRA–Batik Indonesia diperkenalkan kepada masyarakat internasional melalui pelatihan batik tamarind di Universitas Canberra, Australia, pada 2 Oktober 2026 lalu. Bertepatan dengan Hari Batik Nasional, kegiatan ini tidak hanya mengenalkan batik sebagai warisan budaya Indonesia, tetapi juga memperkenalkan pendekatan membatik dengan penggunaan perintang yang ramah lingkungan.

Kegiatan pengabdian kepada masyarakat internasional ini merupakan kerja sama Universitas Trisakti yang diwakili Dr Cama Juli Rianingrum dan Universitas Kristen Maranatha yang diwakili Prof Ariesa Pandanwangi. Program tersebut menjadi bagian dari realisasi Memorandum of Understanding (MoU) kedua universitas dan berkolaborasi dengan Pendidikan Sosial Budaya (Pensosbud) Kedutaan Besar Republik Indonesia di Canberra.

Pelaksanaan kegiatan didukung Indonesian Embassy Canberra, Perhimpunan Pelajar Indonesia Australia (PPIA) ACT, UC Indonesian Student Association (UCISA), dan Australia Indonesia Youth Association (AIYA), mulai dari tahap persiapan hingga kegiatan selesai.

Pelatihan berlangsung pukul 09.30 hingga 13.00 waktu setempat di Universitas Canberra dan diikuti 35 peserta. Mereka, terdiri atas masyarakat umum di Canberra serta warga lokal Australia.

Kegiatan dibuka oleh Lintang Paramitasari P Wibawa, PhD, selaku Deputy Chief of Mission, di Canberra. Kehadiran perwakilan diplomatik Indonesia dalam kegiatan tersebut memperkuat dimensi diplomasi budaya yang dibangun melalui pengalaman langsung.

Lintang Paramitasari mengatakan, kegiatan semacam ini dapat menjadi ruang perjumpaan masyarakat Australia dengan budaya Indonesia secara lebih dekat. “Batik dapat dikenalkan bukan hanya melalui penjelasan, tetapi juga melalui pengalaman membuatnya secara langsung. Ketika masyarakat dapat mencoba sendiri prosesnya, mereka memiliki kesempatan untuk mengenal budaya Indonesia dengan cara yang lebih personal dan interaktif,” ujar Lintang Paramitasari yang akrab disapa Mita.

Menurutnya, kegiatan budaya yang melibatkan masyarakat lokal juga membuka ruang interaksi antara komunitas Indonesia dan Australia. “Pertemuan seperti ini penting karena budaya dapat menjadi jembatan untuk membangun pemahaman dan hubungan antarmasyarakat,” kata Mita.

Dr Cama Juli Rianingrum mengatakan, pelatihan tersebut dirancang sebagai bagian dari pengabdian masyarakat internasional sekaligus implementasi kerja sama antarlembaga pendidikan tinggi. “Pengabdian masyarakat internasional ini kami arahkan tidak hanya untuk memperkenalkan batik, tetapi juga memberikan pengalaman belajar kepada masyarakat internasional mengenai proses kreatif dan nilai budaya yang ada di balik batik,” kata Cama.

Menurutnya, penggunaan perintang ramah lingkungan menjadi salah satu aspek yang diperkenalkan dalam pelatihan. “Yang ingin kami tunjukkan adalah bahwa proses membatik dapat terus dikembangkan dengan memperhatikan aspek lingkungan. Perintang tetap memiliki fungsi sebagai pembatas agar warna tidak bercampur pada bagian yang berbeda, tetapi kita juga memperkenalkan pilihan bahan yang lebih ramah lingkungan,” katanya.

Prof Ariesa Pandanwangi menambahkan bahwa metode pembelajaran melalui praktik membuat peserta dapat memahami batik tidak hanya sebagai hasil akhir, tetapi sebagai sebuah proses. “Peserta tidak hanya membawa pulang tote bag yang mereka buat, tetapi juga pengalaman mengenai bagaimana sebuah karya batik dihasilkan. Di situ ada proses mengenal teknik, warna, motif, ketelitian, sekaligus memahami batik sebagai bagian dari budaya Indonesia,” kata Ariesa.

Menurut Ariesa, konteks internasional memberikan nilai tambah bagi kegiatan tersebut karena peserta berasal dari latar belakang masyarakat yang beragam. “Ketika batik dipelajari bersama oleh peserta dari Indonesia dan masyarakat lokal di Australia, terjadi pertukaran pengalaman. Ini menjadi kesempatan untuk memperkenalkan budaya Indonesia sekaligus membuka ruang dialog lintas budaya,” katanya.

Dalam pelatihan itu, kata dia, peserta membuat batik tamarind di atas tote bag. Salah satu pesan yang ditekankan adalah pentingnya inovasi dalam menjaga keberlanjutan praktik budaya. Perintang dalam proses membatik berfungsi menghalangi warna agar tidak masuk ke bagian tertentu sehingga warna yang satu tetap terpisah dari warna lainnya.

Penggunaan perintang yang lebih ramah lingkungan dalam kegiatan tersebut, kata dia, menjadi bagian dari upaya memperkenalkan proses kreatif yang mempertimbangkan aspek lingkungan tanpa menghilangkan fungsi dasar teknik membatik.

Pendekatan tersebut sejalan dengan semangat Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 4 mengenai pendidikan berkualitas, SDG 12 tentang konsumsi dan produksi yang bertanggung jawab, serta SDG 17 mengenai kemitraan untuk mencapai tujuan. SDG 4, secara khusus juga mencakup pendidikan untuk pembangunan berkelanjutan, kewargaan global, serta penghargaan terhadap keberagaman budaya.

Sementara itu, SDG 12 menekankan pentingnya pola konsumsi dan produksi berkelanjutan serta peningkatan kesadaran masyarakat mengenai pembangunan berkelanjutan.

Dalam konteks tersebut, kegiatan batik di Canberra menjadi lebih dari sekadar lokakarya seni. Kegiatan ini mempertemukan pendidikan, budaya, inovasi lingkungan, dan kemitraan lintas institusi dalam satu ruang pembelajaran.

Kerja sama antara Universitas Trisakti, Universitas Kristen Maranatha, KBRI Canberra, organisasi mahasiswa dan komunitas Indonesia-Australia menunjukkan bagaimana perguruan tinggi dapat berperan dalam memperluas dampak pengabdian masyarakat hingga tingkat internasional.

Bertepatan dengan Hari Batik Nasional, pelatihan tersebut sekaligus memperlihatkan bahwa batik dapat menjadi medium diplomasi budaya yang adaptif. Melalui praktik langsung dan pendekatan yang memperhatikan lingkungan, warisan budaya Indonesia diperkenalkan kepada masyarakat internasional dengan cara yang edukatif, partisipatif, dan relevan dengan agenda pembangunan berkelanjutan.

Post Comment