Tapal Market Perkenalkan Gabin dengan Wajah Baru, Dari Camilan Klasik Jadi Pastry Modern
BANDUNG—Tapal Market resmi meluncurkan Gabin Tapal. Yakni, sebuah interpretasi baru terhadap gabin, jajanan yang telah lama menjadi bagian dari keseharian dan memori masyarakat Indonesia. Melalui konsep ‘RETHINK GABIN — Some Classics Never Stop Evolving’, Tapal Market mengajak masyarakat melihat gabin dari perspektif yang berbeda. Yakni, bukan sekadar camilan nostalgia, gabin diposisikan sebagai medium untuk mengeksplorasi kembali bagaimana makanan tradisional dapat berkembang mengikuti zaman tanpa kehilangan identitasnya.
Gabin dipilih bukan tanpa alasan. Bagi Tapal Market, gabin merupakan salah satu makanan sederhana yang memiliki kedekatan dengan berbagai generasi. Bentuknya familiar, rasanya akrab, dan kehadirannya lekat dengan cerita keseharian masyarakat Indonesia. “Bagi kami, gabin menarik karena dia adalah makanan yang sangat sederhana, tetapi punya cerita yang panjang. Kami melihat ada ruang untuk membawa gabin ke konteks yang lebih modern tanpa menghilangkan karakter dasarnya. Jadi, kami tidak ingin membuat sesuatu yang benar-benar baru, tetapi mencoba melihat kembali gabin dengan perspektif yang berbeda,” ujar Chef Nugraha yang merupakan Chef sekaligus Founder Tapal Market.
Menurut Chef Nugraha, Gabin sendiri memiliki perjalanan yang cukup panjang sebelum dikenal luas sebagai camilan seperti sekarang. Berawal dari crackers yang kemudian diadaptasi, diisi, dan berkembang menjadi sajian yang akrab di tengah masyarakat Indonesia. Perjalanan tersebut, menjadi salah satu alasan Tapal Market memilih gabin sebagai bagian dari eksplorasi kulinernya.
Di tengah berkembangnya tren pastry dan berbagai jajanan kekinian, kata dia, Tapal Market memilih mengambil jalur yang berbeda. Alih-alih mengikuti tren dengan menghadirkan produk yang sedang populer, Tapal Market memilih mengangkat makanan yang sudah dikenal masyarakat dan memberikan perspektif baru terhadapnya.
Menurut Chef Nugraha, gabin memiliki karakter yang menarik dari sisi kuliner. Karena, terdapat keseimbangan antara tekstur crackers dan isian yang dapat dikembangkan ke berbagai arah. “Secara produk, gabin punya sesuatu yang menarik. Ada tekstur, ada ruang untuk bermain dengan filling, dan yang paling penting, orang sudah punya memori terhadap gabin. Tantangannya adalah bagaimana kami bisa mempertahankan rasa familiar itu, tetapi pada saat yang sama memberikan pengalaman yang baru,” papar Chef Nugraha.
Pendekatan tersebut, menjadi bagian dari filosofi Tapal Market dalam mengembangkan menu. Yakni, tidak sekadar menciptakan makanan baru, tetapi juga membaca kembali makanan yang sudah hidup di tengah masyarakat.
Bagi Tapal Market, inovasi tidak selalu berarti menciptakan sesuatu dari nol. Terkadang, inovasi justru dimulai dengan melihat kembali sesuatu yang sudah familiar. Proses pengembangan Gabin Tapal, menjadi kesempatan untuk mengeksplorasi batas antara makanan klasik dan interpretasi modern. “Kami tidak ingin mengubah gabin sampai orang tidak lagi mengenalinya. Identitasnya tetap harus terasa. Yang kami lakukan adalah memberikan perspektif baru, sehingga ketika orang mencobanya, mereka masih bisa berkata, ‘Ini gabin,’ tetapi di saat yang sama mendapatkan pengalaman yang berbeda,” katanya.
Sementara menurut CEO & Founder Tapal Market, Assyifa Sofia, melalui RETHINK GABIN, Tapal Market menghadirkan enam interpretasi baru yang berangkat dari karakter dapur Tapal. Setiap interpretasi dibuat dengan pendekatan yang tetap menghormati bentuk dan karakter gabin. Sekaligus, membuka kemungkinan baru dari sisi rasa dan pengalaman menikmatinya.
“Yang ingin kami tunjukkan adalah bahwa makanan klasik tidak harus berhenti di masa lalu. Justru karena gabin sudah begitu familiar, kami merasa punya kesempatan untuk membawanya ke pengalaman yang berbeda. Ada unsur nostalgia, tetapi ada juga rasa penasaran ketika orang melihat gabin dalam bentuk dan rasa yang mungkin belum pernah mereka bayangkan sebelumnya,” paparnya.
Menurut Assyifa, pilihan terhadap gabin juga sejalan dengan karakter Tapal Market yang ingin mengeksplorasi kembali makanan Indonesia melalui pendekatan yang lebih relevan dengan generasi saat ini. “Kenapa gabin? Karena kami tidak ingin selalu mengambil makanan yang sedang populer atau yang sudah dianggap premium. Kami justru tertarik melihat makanan yang dekat dengan kehidupan sehari-hari, kemudian mencari kemungkinan baru di dalamnya. Gabin punya karakter yang sederhana, familiar, tetapi sangat terbuka untuk dikembangkan,” katanya.
RETHINK GABIN menjadi bagian dari upaya Tapal Market untuk mengeksplorasi perspektif baru terhadap makanan Indonesia. Konsep tersebut berangkat dari keyakinan bahwa makanan tidak hanya berbicara mengenai rasa, tetapi juga tentang cerita, kebiasaan, memori, serta bagaimana sebuah makanan terus diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.
“Buat kami, makanan selalu punya cerita. Ketika kita mengambil gabin, kita sebenarnya tidak hanya mengambil sebuah produk, tetapi juga mengambil bagian dari memori banyak orang. Karena itu, kami ingin mengolahnya dengan rasa hormat terhadap apa yang sudah ada, tetapi tetap memberikan ruang untuk berkembang,” kata Assyifa.

Post Comment