Ahli Pendidikan Jepang Berbagi Praktik Pembelajaran lewat Open Lesson di The 4th Practice Asian Exchange di Bandung

BANDUNG--Para peserta yang terdiri dari guru dan pelajar antusias mengikuti The 4th Practice Asian Exchange bertajuk ‘Through Lesson Study for Learning Community’ di Aula SMP Alfa Centauri, Kota Bandung, Bandung, Jumat (29/8/2025). Hadir sebagai pembicara utama dari Jepang, Prof Masami Isoda, PhD dari The University of Tsukuba Japan, bersama para narasumber lain yakni Sensei Takasi Morimoto, Sensei Hidemi Tanaka, dan Sensei Tatsumi Sumi.
Acara yang digelar atas kolaborasi bersama CELLS (Center for Excellence of Lesson and Learning Studies) UPI ini juga dihadiri perwakilan Dinas Pendidikan Jawa Barat, Dinas Pendidikan Kota Bandung, hingga Yayasan Taqwa Cerdas Kreatif, dan sejumlah sekolah yang ada di sekitarnya di Kota Bandung.
Para peserta pun menerima sharing pengajaran di antaranya soal matematika, STEM (Sains (Science), Teknologi (Technology), Teknik/Rekayasa (Engineering), dan Matematika (Mathematics) dari para pakar internasional yang berperan sebagai guru. Peserta duduk layaknya di dalam kelas menyaksikan anak-anak mendapat pengajaran.
Menurut Ketua Yayasan Taqwa Cerdas Kreatif, Ihsan Ibadurrahman, S.Pd., M.HSc., pihaknya menghadirkan pembicara dari Jepang agar bisa berbagi pengalaman pembelajaran lebih transparan sekaligus menjadi bahan refleksi bersama.
“Jadi ini adalah konsep di Jepang, mereka sebutnya open lesson di mana ada satu guru yang mengajarkan anak dan itu ditonton oleh guru-guru lain. Yang tujuannya adalah supaya para guru yang menonton itu bisa mengambil inspirasi. Dan nanti ada self reflection, ada tanya jawab dan lain-lain,” ujar Ihsan.
Ihsan menilai, pendekatan tersebut mampu menggeser paradigma guru dari sekadar menekankan hafalan menuju pemahaman konsep. Ia mencontohkan bagaimana pengajaran matematika yang ditampilkan bisa lebih sederhana, tanpa melulu bertumpu pada simbol-simbol angka.
“Bahkan tadi itu nggak ada penjumlahan, nggak ada simbol pengurangan. Jadi benar-benar memang pembelajaran matematikanya dibuat lebih sederhana dan lebih ke konsep itu,” katanya.
Kegiatan ini, kata dia, tak hanya berfokus pada demonstrasi pembelajaran, tetapi juga membangun jejaring antarpendidik di Asia untuk berbagi praktik baik. Melalui diskusi reflektif, para guru didorong mengembangkan keterampilan pedagogik, terutama dalam mengajarkan matematika dan STEM.
Selain itu, kegiatan ini juga diharapkan melahirkan rekomendasi tindak lanjut bagi peningkatan mutu pembelajaran di sekolah. Seperti disampaikan Ihsan, ke depan open lesson di Alfa Centauri berpotensi melibatkan orang tua siswa agar lebih dekat dengan praktik pendidikan sehari-hari.
Sementara Prof Masami Isoda mengatakan, open lesson sebagai jembatan antara praktik nyata guru di kelas dengan kebijakan pendidikan. Ia menilai bahwa reformasi pendidikan di banyak negara kerap hanya menyentuh ranah kurikulum. Padahal, pembaharuan sejati seharusnya lahir dari pengalaman langsung di ruang kelas.
“Ketika kurikulum itu diganti, maka sebenarnya sumber aslinya adalah dari kelas. Ketika kelasnya dibuka, maka kita bisa memberikan rekomendasi-rekomendasi dan inovasi untuk merubah kurikulum. Jadi ada pengetahuan aktual guru yang diperoleh dari kelas. Bukan semata-mata pengetahuan teori. Ini yang kami bawa,” kata Prof Isoda.***