Nadjani, Modest Fashion Asal Bandung yang Pertahankan Bahan Baku Lokal Tapi Diminati Mancanegara
BANDUNG–Kreativitas, membawa pada kesuksesan telah dibuktikan oleh pemilik brand busana muslim lokal di Kota Bandung, Jawa Barat (Jabar). Di tangan terampil Nadya Rizki Amatullah sebagai pendiri CV Katara Selaras Sejahtera, yang sukses membawa jenama pakaian muslim (modest fashion) miliknya, Nadjani bisa melanglang buana hingga ke mancanegara.
Padahal untuk memulai bisnisnya, Nadya hanya mengandalkan modal awal Rp 10 juta. Namun, karena produk busana muslimnya memiliki ciri khas sendiri. Yakni bermotif unik dengan warna colorful, maka produk pakaian muslim Nadya pun terus berkembang bahkan diminati hingga mancanegara.
“Untuk menjaga autentisitas dan menghindari perang harga, saya berinvestasi dengan membeli mesin cetak kain sendiri. Jadi, motif Nadjani tidak mudah ditiru oleh brand lain karena motifnya kami desain sendiri,” ujar Nadya saat ditemui di Bandung, belum lama ini.
Tak hanya soal desain, Nadya juga piawai dalam membaca regenerasi pasar. Di usia 42 tahun, ia mulai menggandeng desainer muda dari kampus seni ternama seperti FSRD ITB dan DKV Itenas. Tujuannya, agar desain Nadjani tetap relevan dengan selera generasi Z yang kini mulai mendominasi pasar.
“Target pasar sekarang berubah, desainnya harus mulai bergeser ke arah yang diminati anak muda, seperti penggunaan bahan dan desain yang lebih kasual,” kata Nadya.
Selain itu, di tengah gempuran produk impor murah, khususnya dari China, Nadya memilih prinsip ekonomi yang teguh. Ia tetap bertahan menggunakan 100 persen bahan baku lokal dalam setiap produknya. Baginya, ini adalah bentuk kontribusi untuk memastikan roda ekonomi tetap berputar di dalam negeri.
“Semua bahan dari Indonesia, dikerjakan di Indonesia, jadi uangnya tetap berputar di sini, tidak keluar,” katanya.
Menurut Nadya, dengan penjualan secara online melalui platform Shopee, produknya bisa terpasarkan ke seluruh Indonesia. Bahkan, hingga ke mancanegara seperti Malaysia dan Singapura. Namun, ia pun berharap produknya bisa dikirim ke negara Eropa juga.
“Banyaknya masih ke negara tetangga. Tapi mulai ada permintaan dari negara-negara Eropa, seperti Swiss,” katanya.

Menurut Nadya, ia melihat bahwa pangsa pasar luar negeri bagi busana Muslim Indonesia masih sangat terbuka lebar. Misalnya di Singapura, tren modest fashion asal Indonesia jauh lebih unggul dan menjadi rujukan bagi pasar lokal di sana. Tak heran, dalam sebulan Nadya mampu memproduksi hingga belasan ribu potong pakaian untuk memenuhi permintaan domestik maupun ekspor.
Namun, kata Nadya, untuk mengekspor produknya ke pasar global ia kerap menemui hambatan. Salah satunya, volume pengiriman seringkali menjadi batu sandungan bagi pelaku UMKM. Menghadapi hal ini, Nadya memilih berkolaborasi dengan platform e-commerce yang menyediakan fasilitas ekspor seperti Shopee.
“Sangat terbantu sekali. Dengan fasilitas ini, volume produk yang diekspor dikirim bersamaan, sehingga pelaku UMKM bisa saling kolaborasi untuk mengirimkan produk secara kolektif,” katanya.
Dukungan terhadap UMKM seperti Nadjani juga tercermin dalam data program Ekspor Shopee. Sejak 2019, tercatat sedikitnya 60 juta produk lokal telah tersalurkan ke berbagai kawasan seperti Asia Tenggara, Asia Timur, hingga Amerika Latin.
Post Comment