Ketegangan Konflik Timur Tengah Masih Terjadi, Ekonomi Jabar Masih Terjaga
BANDUNG–Ketegangan konflik geopolitik antara Iran, Israel, dan Amerika Serikat terus meningkat. Namun, sektor jasa keuangan di Jawa Barat (Jabar) tetap menunjukkan daya tahannya. Hal ini pun, menjadi sinyal bahwa fondasi ekonomi daerah masih cukup kuat dalam menghadapi tekanan eksternal.
Menurut Kepala Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Jabar, Darwisman, hingga pekan ketiga konflik berlangsung, belum terlihat dampak langsung terhadap kondisi ekonomi nasional. Indonesia dinilai relatif aman dari guncangan awal yang biasanya dipicu oleh konflik global.
“Sejauh ini aman, karena kita tidak terlalu bergantung pada pasokan minyak dari selat Hormuz,” ujar Darwisman dalam agenda Media Update Triwulan I 2026 bertajuk “Babarengan Calik Ngobrolkeun Sektor Jasa Keuangan (Bancakan)” di Bandung, Rabu (1/4/2026).
Darwisman mengatakan, salah satu indikator yang masih terjaga adalah harga bahan bakar minyak (BBM). Stabilitas ini, dipengaruhi oleh rendahnya ketergantungan Indonesia terhadap pasokan minyak dari kawasan Selat Hormuz.
Selain itu, kata Darwisman, di level regional aktivitas ekonomi Jabar justru tetap bergerak positif. Arus investasi terus masuk, kinerja ekspor meningkat, dan sektor riil masih menunjukkan geliat yang sehat.
Untuk sektor perbankan, kata dia, saat ini juga belum menunjukkan tanda-tanda tekanan. Pertumbuhan kredit nasional masih berada di kisaran sembilan persen, mencerminkan fungsi intermediasi yang tetap berjalan optimal. “Jika kami melihat dampak terhadap sektor perbankan nasional maupun Jawa Barat, sejauh ini belum terlihat. Secara nasional, kredit perbankan pun masih tumbuh solid di angka sembilan persenan,” katanya.
Dari sisi likuiditas, kata dia, penghimpunan dana masyarakat terus meningkat. Hal ini, memperlihatkan tingkat kepercayaan publik terhadap perbankan tetap tinggi di tengah dinamika global. Meskipun pertumbuhan ekonomi Jabar, sedikit berada di bawah rata-rata nasional. Tapi, tren yang terjaga ini dinilai cukup menggambarkan ketahanan ekonomi daerah secara keseluruhan.
Darwisman menjelaskan, pada Januari 2026 penyaluran kredit perbankan berdasarkan lokasi proyek di Jabar mencapai Rp 1.047 triliun. Angka ini, tumbuh 2,50 persen YoY. Pertumbuhan ini, lebih rendah dibandingkan nasional sebesar 9,85 YoY.
Darwisman menegaskan, OJK Jabar pun memilih untuk tetap waspada. Pemantauan intensif akan terus dilakukan dalam beberapa bulan ke depan guna mengantisipasi potensi dampak lanjutan dari konflik global. Untuk langkah mitigasi, Darwisman mendorong kepatuhan terhadap kebijakan pemerintah pusat. Termasuk, penerapan Work From Home (WFH) bagi ASN sebagai upaya efisiensi energi.
“Selain itu, penguatan efisiensi anggaran dan ketahanan pangan juga menjadi fokus penting agar stabilitas ekonomi terjaga,” katanya.



Post Comment